the Tax that no longer local

 
Image

Ekonomi dan pajak memang terkenal tak akur.. istilah kerennya sih “counter cyclical“. “Kalo mau kembangkan industri, berilah relaksasi (fasilitas-fasilitas) pajak. Kalo yang beli mobil mewah kebanyakan, naikkanlah PPnBM. Begitulah gambaran tidak harmonisnya hubungan mereka :p

Dan yah, sejarah panjang pajak mencatat kalo pajak selalu saja terkekang di rumah tangga masing-masing negara, tanpa peduli bagaimana urusannya dengan negara-negara lain. Di satu sisi, ekonomi berkembang pesat dan makin terhubung. Perusahaan multinasional kini bisa saja menaruh pabriknya di China, riset di AS, Kekayaan Intelektual nya di Irlandia, rekening bank nya jauh di British Virgin Island, dan produknya berserakan di Mangga Dua. Dengan pajak yang tidak klop dengan ekonomi, tak aneh kalo di sisi lain, sistem pajak internasional menjadi kurang nge-trend beberapa dekade ke belakang. Sampe-sampe ada istilah “Business goes global, taxes stay local” :p

Tax treaty, yang jadi salah satu jalan bagi pajak untuk “goes global” pun mungkin tak lebih dari bagian makeup yang mendandani profil ekonomi negara butuh modal untuk mencuri perhatian negara investor. Oiya, yang belum tau tax treaty (Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda-P3B), simplenya, sebuah tax treaty antarnegara bisa menghilangkan pajak atas hasil investasi seperti dividen, bunga, dan royalti dari 20% (lihat pasal 26 UU PPh) jadi 0% aja. Dengan begitu, investasi jadi lebih menarik bukan?🙂

And… global business gets the world go round and round, sampai krisis 2008 menerjang…

Krisis keuangan membuat negara-negara maju (khususnya AS dan Eropa) kian kesulitan mendanai perekonomiannya. Tidak mungkin kalo mereka terus “menyedot” uang dari perekonomian mereka sendiri. Hal tersebut membuat mereka mulai mencari “sumber mata air” yang masih bisa digali. Dan, negara-negara maju seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat mulai menggali potensi pajaknya, tak lagi hanya di dalam rumahnya.

Hasilnya, fakta yang didapatkan ternyata jauh lebih besar dari apa yang dapat dibayangkan. Dunia pajak internasinal yang selama ini dianggap adem ayem saja ternyata menyimpan fakta menarik: TJN melaporkan ada 21 Triliun aset keuangan tersimpan di Tax Haven, Eropa kehilangan 1 triliun Euro tiap tahun karena penggelapan dan penghindaran pajak. AS tak mau kalah, kerugian yang mereka alami “hanya” sepersepuluh Eropa atau 100 miliar USD tiap tahunnya.

How come? Logikanya, pajak bukanlah barang remeh dalam mempertimbangkan keputusan bisnis multinasional. Jika bisa 0, kenapa harus bayar? Dengan jaringan bisnis yang mendunia, multinasional memanfaatkan “tax treaty” antarnegara sedemikian rupa dalam merancang skema bisnisnya. Siapa tak kenal Google? Dengan skema pajak internasional yang bernama “double Irish and the Dutch sandwich”, percayakah anda kalo Google cuma bayar pajak 12 juta Pounds dari omzet 3 milyar Pounds, worldwide?

EU yang digawangi Inggris terus “berburu” para “mafia” pajak skala internasional. Jika anda mengikuti berita, tentu ada mendengar kabar Starbuck, Amazon, bahkan Facebook yang kena “sentil” HMRC (otoritas pajak Inggris) ato Apple, Inc. yang terus disambar pemerintah AS.

Terlepas dari legal atau tidaknya skema yang digunakan, profit yang terbebas dari pemajakan tidaklah kecil. Dengan mudah multinasional bisa memindahkan profitnya dari satu negara ke negara lain yang pada akhirnya bermuara di tax haven (Kemudian, istilah ini dikenal dengan Base Erotion and Profit Shifting -BEPS). FYI, tax haven banyak didefisnisikan sebagai negara tanpa pajak penghasilan dan kerahasiaan bank yang tinggi.

Dunia tak diam saja, negara maju yang tergabung dalam OECD lalu menggagas BEPS Action Plan, yang pada intinya mengajak seluruh negara di dunia untuk melawan penghindaran dan penggelapan pajak internasional. G20 dengan Global Tax Forum nya seakan me “retweet” apa yang digagas OECD dengan “Global tax forum on transparency”  nya. Tak ketinggalan Amerika Serikat yang mengeluarkan FATCA nya.

Kini, dunia seakan terhenyak, terbangun dengan fakta bahwa urusan pajak tak lagi bisa diatur rumah tangga masing-masing. Pajak dan ekonomi, mereka beririgan, walau tak pernah beririsan.

So, let us think global about tax!🙂

What about Indonesia? Konon katanya, Indonesia masuk urutan 9 dunia dari jumlah aset keuangan di Tax Haven(TJN), urutan 7 dunia dari Illicit Financial Flow (GFI), dan urutan 7 negara G-20 yang menderita kerugian terbesar akibat transfer mispricing (Christian Aid). Jangan aneh kalo kebanyakan PMA merugi ato bayar pajak hanya sedikit saja.

Dengan melihat derasnya FDI dan pesatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia, semoga anda tidak terkejut dengan fakta di atas🙂

One thought on “the Tax that no longer local

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s