Electronic Face.

no need to argue ’bout posts or tweets of people. promising wises, sniveling, shares, hypocrites or bullshits. those are just from electronic profiles – status Facebook.

Jauh sebelum ada kata alay, ketika dunia Friendster baru saja merasuk, dengan warna warni ID nya (tak terkecuali punya saya), saya tak pernah berniat membuat representasi diri saya di internet yang sama dengan bagaimana saya sebenarnya.

Sebelum ada sosial media, di internet, pada dekade 80an, ada sekelompok bernama “Legion of Doom”. Dimana mereka sering bertemu dalam channel #mirc, berdiskusi, dan “bekerja” bersama dalam keamanan komputer. Tentunya, ketika itu mereka tidak menamai diri mereka  “Grup pecinta keamanan IT”. Mereka yang tergabung disana pun haya memakai ID saja, dan tak peduli siapa sebenarnya ID tersebut di dunia nyata. Kalo boleh taruhan, “the Mentor” lebih terkenal daripada “Lloyd Blankership”, sang penulis Manifesto.

Oke, mungkin cerita diatas sedikit absurd. Saya ingin mengatakan bahwa  (mungkin) sejak dulu internet sudah digunakan untuk bersosial. Tapi, dunia internet bukanlah dunia tiga dimensi, tapi hanya rangkaian digit 1 dan 0 sebagai “atom” nya. Pun sebagai pengguna, (setidaknya ketika itu) internet adalah dunia lain tempat aktualisasi dari sisi lain dari diri ini, tanpa harus dihubungkan dengan kepribadian di dunia nyata.

Dunia IT berkembang sedemikian cepat, dan populer lah media sosial. Friendster menjadi usang, dan Facebook jadi media populer. Tren mulai berubah. Tidak ada lagi “ID” atau alias atau a.k.a di dunia maya. Foto dan nama asli pun digunakan bahkan dengan detail identitas yang saya yakin dulu terasa haram hukumnya jika disebarkan di dunia maya.

Transformasi, mungkin itu yang sedang terjadi. Dunia nyata dan maya makin terhubung dan terus berevolusi. Makin nyata. Dan kini kita tak lagi mengenal orang di dunia maya dengan ID nya, tapi kita sudah menganggap dia di dunia maya adalah dia di dunia nyata.

Tapi, buat saya, maya dan nyata tak akan pernah sama.

One thought on “Electronic Face.

  1. Yes. Love this lil contemplating. Sekarang, maya dan nyata bisa dikatakan melebur, seolah nggak ada batas bakunya. Maya seolah identitas yang mewakili eksistensi seseorang-atau bahkan in some cases-taking over.
    Well, abstaksi memang dibutuhkan. Tapi, semoga orang nggak lupa, kalo yang namanya reality itu.. tetap harus ada..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s