Evading Tax Through the Information Secrecy : Damn You, Stingy Rich!

disclaimer : tulisan dibawah tanpa mencantumkan referensi-referensi dan banyak diselipi asumsi serta opini sehingga rentan terhadap kesalahan-kesalahan.

therich

Dalam tulisan ini saya mengasumsikan bahwa kita semua sudah memahami pentingnya pajak bagi perekonomian suatu negara. Juga, dalam tulisan ini saya mengasumsikan bahwa kita semua memahami bahwa segala bentuk penggelapan pajak yang melawan hukum harus diberantas.

here we go….

Pada dasarnya, setiap pengusaha akan berusaha memaksimalkan laba yang diperolehnya. Sedangkan pajak adalah pungutan pemerintah dan merupakan pengurang laba yang diperoleh wajib pajak. Sehingga wajar jika pengurangan pajak diinginkan oleh setiap wajib pajak. Atau setidaknya, (kalau mau berprasangka baik), wajib pajak menginginkan agar pajak yang mereka bayar tidak melebihi dari apa yang diamanatkan peraturan.

Nah.. di dunia perpajakan, terdapat istilah untuk menyebut perilaku/tindakan wajib pajak dalam mengurangi jumlah pajak yang terutang. Singkatnya, usaha untuk mengurangi pajak tersebut dibagi menjadi 2 : legal dan ilegal. Usaha yang legal biasa diklasifikasikan sebagai mitigasi dan avoidance (avoidance pun dibedakan menjadi yang disukai otoritas pajak dan yang tidak). Sedangkan usaha pengurangan pajak yang ilegal biasa disebut dengan tax evasion.

Tax avoidance itu usaha menghindari kewajiban pajaknya, sehingga pajak tidak banyak terutang. Misalnya, untuk mengurangi pajak, sebuah wajib pajak korporasi menggunakan struktur permodalan dengan pinjaman yang jauh lebih besar dari modalnya (pinjaman besar maka biaya bunga nya besar, biaya besar membuat profit mengecil, sehingga pajak mengecil pula; sedangkan deviden tidak bisa menjadi pengurang penghasilan). Disini, tidak ada pelanggaran peraturan yang terjadi.

Disisi lain, tax evasion, berusaha menghindari pajak dengan cara melanggar kewajiban pajak yang telah muncul. Misalnya, sebuah perusahaan berusaha membuat biaya-biaya fiktif agar profitnya kecil. Atau dengan melaporkan penghasilan/harta lebih kecil dari yang seharusnya. Salah saru caranya adalah dengan cara akan dibahas di tulisan ini, yaitu penggelapan aset. Dengan aset yang tidak diketahui oleh otoritas pajak, maka kemungkinan untuk menerapkan pajak terhadap aset tersebut sangatlah kecil. Misalnya, dengan
menyembunyikan aset tersebut di sebuah tax haven. Bayangkan jika sebuah perusahaan mencetak penghasilan triliunan, lalu penghasilan tersebut tidak dipaorkan pada SPT nya. Kemudian aset tersebut diselundupkan ke tax haven yang memiliki kerahasiaan tinggi. Walhasil, otoritas pajak tidak akan mendapatkan apa-apa dari aset tersebut.

Tax haven secara sederhana adalah yurisdiksi dengan fasilitas pajak yang memanjakan wajib pajak. Fasilitas tax haven yang banyak diketahui adalah tarif yang rendah atau bahkan tanpa pajak sama sekali. Terlepas dari apapun alasan tax haven memberlakukan segala keringanan pajaknya (misalnya untuk menggenjot investasi, meningkatkan penghasilan non pajak, dll), tax haven sering dimanfaatkan oleh wajib pajak untuk mengurangi pajak mereka.

Mungkin sedikit dari kita yang mengetahui bahwa fasilitas tax haven bukan hanya soal keringanan pajaknya. Terdapat pula fasilitas yang sangat menguntungkan wajib pajak untuk meringkankan pajaknya (dan merugikan otoritas pajak, tentunya), yaitu kerahasiaan informasi. Kerahasiaan informasi ini terutama berkaitan dengan informasi yang dimiliki sebuah institusi keuangan, misalnya bank. Terdapat yurisdiksi-yurisdiksi dengan peraturan yang menjamin kerahasiaan nasabah bank nya. Satu yang paling terkenal tentu saja Swiss.

Mengapa ini penting? Tanpa adanya informasi tentang harta wajib pajak (atau penghasilan wajib pajak), maka pemerintah tidak berdaya untuk memungut pajak. Sederhananya, wajib pajak tinggal sembunyikan harta tersebut di tax haven (dengan kerahasiaan informasi), lalu tidak melaporkan penghasilan/harta tersebut dalam SPT nya. Dengan kerahasiaan yang tinggi, jika anda menabung miliaran dollar pun, dengan peraturan kerahasiaan bank nya, tidak ada siapapun yang tahu.

meanwhile in the real world….

Sebuah laporan dari Tax Justice Network (TJN) menyebutkan bahwa terdapat 21 triliun US dollar aset keuangan yang disimpan di tax haven. Perlu ditekankan, jumlah tersebut adalah aset keuangan saja dan belum termasuk aset lain seperti apartemen mewah, kondomonium, kapal pesiar, dsb.

Dengan kurs 9000 rupiah per dollar nya, jumlah tersebut setara dengan 1,89×10^15 rupiah :p . Jumlah sebesar itu berasal dari banyak negara. Yang mengejutkan, terdapat 331 miliar US dollar diantaranya yang berasal dari our beloved country, Indonesia!. Oke, agar lebih mudah membayangkan, jika dirupiahkan jumlahnya kira-kira sebesar 2,9810^12 rupiah.

Mari kita berasumsi. bahwa dari jumlah sebanyak itu, setiap tahunnya jumlah potensi penghasilan bersih yang dapat dihasilkan sebesar 20% dari total aset, dan pajak yang dikenakan tariffnya 30%, maka setiap tahunnya dunia mengalami kerugian sebesar 840 miliar US dollar. Bayangkan kemana saja dana tersebut dapat di salurkan untuk berbagai keperluan suatu negara, seperti dana jaminan sosial, pembangunan infrastruktur, dan lainnya.

Dengan asumsi yang sama, kurang lebih pajak yang berhasil diselundupkan oleh para penjahat kaya tiap tahunnya adalah sebesar 178,74 triliun rupiah! FYI, dana BOS Indonesia tahun 2012 besarnya adalah 27 Triliun rupiah “saja”.

hmmm…

Memang, korupsi di indonesia, khususnya di kalangan pemerintahan (seperti yang sering dituduhkan masyarakat) itu kejahatan yang tidak dapat ditoleransi. Bayangkan susah payah masyarakat merelakan harta/profitnya dipungut pajak, bayangkan pula kesulitan dari pihak-pihak yang berjuang mengumpulkan pajak tersebut (yang berusaha keras namun tetap kena caci maki). Yang kemudian masuk kas anggaran negara bernama APBN, kemudian semena-mena dimaling (baik secara legal *denggan anggaran buncit yang tak jelas manfaatnya* :p maupun ilegal).

Tapi mari kita lihat sisi lain, miliaran rupiah yang konon diterima Gayus sudah membuat satu institusi begitu dipojokkan (bahkan sampai ada gerakan boikot pajak segala). Tapi kita tak pernah sekalipun membahas berapa sih pajak yang berusaha “diselamatkan” wajib pajak nakal sampai harus menyuap dengan jumlah sedemikian “besar”. Dengan fakta dari TJN tadi, sesungguhnya kita harus membuka mata, bahwa isu kejahatan pajak bkan hanya perampokan uang pajak yang sudah terkumpul, bukan hanya suap yang diterima petugas, tapi juga segunung harta dan keuntungan yang “boro-boro” dibayar pajaknya, malah diselundupkan dan tidak dilaporkan.

Saya harap tulisan ini dapat membuka mata kita.

Hidup Indonesia!

3 thoughts on “Evading Tax Through the Information Secrecy : Damn You, Stingy Rich!

  1. Bener bgt tuh yan, selama ini masyarakat udah punya paradigma sendiri ttg pajak. Bagaimana orang2 pajak yg katanya makan uang pajak (re: DJP) lah, padahal orang pajak bisa berbuat demikian krn ada dorongan dari WP itu sendiri, yakni WP yg melakukan tax evasion.

  2. Iya, gw sendiri pengen ngedorong yang baca buat ngelihat dari sidut pandang yang lebih luas. Karena potensi kerugian yang mereka lihat dari satu sudut pandang itu (korupsi dari pemerintah) hanya sebagian kecil aja. Sedangkan diluar itu, disisi wajib pajak, besar banget potensi yang belum digali, dan memang sengaja dikubur dalam2 untuk mempersulit penggalian.

  3. Nah, perspektif seperti ini yang seharusnya dipaparkan ke masyarakat biar nggak kemakan omongan media soal kejelekan, kebobrokan, etcetera tentang institusi ‘korup’ pajak. Herannya dari pihak direktorat sendiri, entah nggak mau atau nggak berusaha memberi data dan fakta kayak gini, padahal saya yakin dampaknya pasti bakal cukup besar untuk kaum menengah yang berpikir lebih cerdas. Atau juga mungkin takut dengan sentimen perusahaan-perusahaan besar yang bakal merasa disinggung? Siapa yang tahu.

    Tulisan yang bagus. Semoga banyak yang belum mengerti menjadi lebih ‘melek’ kondisi dan tercerahkan.
    Keep writing!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s