Sekolah Kedinasan dan Pendidikan Tinggi, as i see it.

Judul ga nyambung ama isi? dafuq, mungkin saatnya saya mengenalkan istilah “jangan liat tulisan dari judulnya”

Dulu ketika kasus Gayus mencuat, STAN menjadi sorotan. Entah apa yang ada di benak para praktisi media dan entah mengapa rakyat pun ikut latah. Mereka seakan menekankan bahwa tindakan Gayus ada hubungannya dengan STAN.

Ini lucu, salah seorang teman saya di twitter bahkan berkomentar “koki masak telur sampe gosong, dan yang disalahkan  adalah produsen telur” . Mengaitkan tindakan Gayus dan pendidikan di STAN sangat tidak relevan.

Seperti biasa, pada akhirnya kasus ini seakan ter“overwrite” dengan pengalihan isu yang begitu klise di negeri ini. Beberapa kasus kemudian TERcuat (kenapa TER? Pikirkan saja sendiri) dan entah kenapa tidak ada satupun dari pelaku tindakan dalam kasus tersebut dikaitkan dengan almamaternya. Padahal jumlah kerugian negara yang diakibatkan jelas jauh lebih besar.

Sampai pada akhirnya sebuah kampus ternama di Indonesia bermasalah dengan pengelolaan keuangannya. Dan sudah jelas yang bermasalah bukanlah almamaternya, namun KAMPUS ITU SENDIRI. Tapi sampai sekarang citra kampus tersebut tidak pernah menjadi seburuk apa yang diakibatkan Gayus terhadap STAN. Padahal jelas sekali INSTITUSI yang salah. Saya mulai tak tahan.

Sampai akhirnya, ketika giliran kasus  yang –saya menyebutnya-  “dicuatkan” berjudul “Gayus 2” , STAN pun kembali menjadi sorotan. Saya benar-benar tak mengerti, bagaimana masyarakat (atau beberapa oknum masyarakat) itu bisa bisanya kembali mengaitkannya dengan STAN. Seakan STAN mendidik mahasiswa nya untuk melakukan tindakan tidak terpuji.

The judge

Munafik jika anda sebagai rakyat menghujat pemerintah atas ketiadaan pendidikan gratis atau ketiadaan peluang kerja. Sejak dahulu pemerintah menyediakan KEDUANYA melalui sekolah kedinasan. Namun untuk menggunakan uang negara yang tidak sedikit, tentu hanya mereka yang terpilih lah yang berhak mendapatkannya.

Dan (tentu saja) jumlah yang tak mendapatkannya akan JAUH lebih banyak dari yang berkompetensi untuk mendapatkannya. Karenanya, saya rasa wajar jika akan banyak sekali orang yang tidak suka dengan sekolah kedinasan. Bukan karena sekolahnya, tapi karena mereka sendiri tidak bisa mendapatkannya. Ditengah stereotip mental kebanyakan para Indonesian itu hal yang wajar, saya rasa.

Ditambah dengan bisnis pendidikan yang semakin tidak sehat, keberadaan sekolah gratis merupakan sebuah hal yang mengganggu. Kasus Gayus berbanding kasus universitas ternama Indonesia telah memberikan saya pemahaman yang saya sendiri benci mengakuinya. Kalau kampus berbayar haruslah mau tak mau terlihat baik dengan berbagai cara agar tidak kehilangan konsumennya (saya lebih suka menyebut mereka konsumen daripada mahasiswa). Sedangkan kampus gratis? Ah tak perlu lah saya paparkan lagi.

The Hope

Maju terus Indonesiaku, janganlah lelah memberikan pendidikan gratis dan kesempatan mengabdi membangun bangsa bagi mereka yang terbaik, meski hujatan (salah sasaran) datang bertubi tubi.

Pendidikan gratis dan kesempatan kerja itu bukanlah mimpi mustahil  di negeri kita ini. Namun sebuah kenyataan yang perlu perjuangan untuk meraihnya.

The… whatever

Masalah bobroknya negara? turun tangan atau melipat tangan, itu pilihan anda. Mencela pemerintahan karena tak sanggup membayar keserakahan anda, lalu anda mengabdi kepada negeri lain karena materi, adalah sikap seorang …….. ( ah, saya tak menemukan kata yang pantas disandingkan dengan anda)

2 thoughts on “Sekolah Kedinasan dan Pendidikan Tinggi, as i see it.

  1. then this situation will become our task together as young generation to get public trust again. ptk, pts, ptn— if we always compare and compare them, when will we realize that our action together should be in the first place?😀

    semangat brother! haha :p

  2. Yoo, ini hanyalah coretan belandas emosi. Jadi open minded dan solutif bukanlah jaminan🙂

    Adalah tugas kita tanpa kecuali untuk melakukan tugas kita sebaik2nya, dalam posisi kita sebagai mahasiswa. Agar kelak pada saatnya kita dapat memerankan bagian kita, juga dengan sebaik2nya. Tanpa ada pemikiran diluar posisi dan proporsi namun tak bertindak, apalagi bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s