(Opini) PPnBM atas BlackBerry

latar belakang pemerintah untuk mengenakan PPnBM atas BlackBerry adalah untuk menerapkan disinsentif kepada RIM, produsen BlackBerry yang justru membangun pabriknya di Malaysia padahal konsumsi BlackBerry di Indonesia mencapai 4 juta unit atau 10 kali lipat daripada Malaysia.

 

Menurut saya, Indonesia akan sangat dirugikan jika RIM mendirikan pabriknya di Malaysia. Ibaratnya, Indonesia hanyalah sebagai ladang bagi mereka untuk meraup keuntungan tanpa mau berkontribusi bagi pendapatan Indonesia, misalnya dari penyerapan tenaga kerja. Diharapkan dengan pemberian disinsentif berupa PPnBM, RIM akan lebih tertarik untuk mendirikan pabriknya di Indonesia saja.

Namun pilihan disintensif yang dimiliki pemerintah terbatas, karena BlackBerry tidak dapat dikenai Bea Masuk. Selain itu, pengenaan PPh pasal 22 juga dinilai kurang optimal mengingat tarifnya yang kecil. Dengan demikian, pilihan disintensif paling optimal yang dimiliki pemerintah adalah mengenakan PPnBM terhadap BlackBerry.

Kebijakan pemerintah ini menurut saya akan mendatangkan beberapa keuntungan, diantaranya jika PPnBM diterapkan maka masyarakat akan membatasi konsumsinya sehingga produk local akan lebih bersaing. Tentu saja disamping pendapatan Negara yang akan bertambah.

Akan tetapi, ke efektifan dari pengenaan PPnBM ini cukup diragukan jika menilik tujuan utamanya yaitu agar RIM lebih tertarik untuk membangun pabriknya di Indonesia. Penerapan PPnBM pada akhirnya justru akan membebani konsumen yang merupakan rakyat kita sendiri. Selain konsumen yang terbebani, bukan tidak mungkin jika  RIM bahkan akan menghentikan pasokan BlackBerry nya ke Indonesia sehingga pendapatan Negara justru hilang sama sekali.

Saya berpendapat jika akar masalahnya bukanlah bagaimana menerapkan disintensif se besar mungkin, tapi bagaimana membuat RIM tertarik untuk membangun pabriknya di Indonesia. Karena jika RIM membangun pabriknya di Indonesia, dampak positifnya terhadap perekonomian Negara akan jauh lebih baik dibandingkan jika hanya menerapkan PPnBM namun pabriknya tetap di Malaysia.

Pokok persoalan yang ada adalah bagaimana meningkatkan ketertarikan investor terhadap ekonomi Indonesia. Terciptanya iklim investasi yang sehat, kemudahan mendapatkan perizinan, birokrasi yang tidak berbelit serta sarana dan prasarana yang memadai akan lebih “menggoda” RIM untuk membangun pabrik di Indonesia dibandingkan dengan “mengancamnya” dengan penerapan disintensif.

Jika faktor-faktor diatas sudah dicapai, bukan tidak mungkin RIM dan perusahaan-perusahaan lainnya akan tertarik menanamkan investasinya di Indonesia. Dalam kasus RIM, yaitu dengan membangun pabriknya di Indonesia. Karena dengan begitu, walaupun PPnBM tidak dikenakan, pendapatan Negara akan jauh lebih terstimulasi.

 

Jayalah Indonesiaku🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s