Masjid Ideal : Megah Atau Makmur?

Dikutip dari buku “Mukjizat Sains Dalam Al Quran” karya Ir. H. Bambang Pranggono, MBA., IAI

…Sesungguhnya masjid yang dibangun atas dasar takwa di masa awal, lebih berhak untuk kamu dirikan shalat di dalamnya… (Q.S. At-Taubah [9]:108)

Kegiatan Rasulullah SAW, yang pertama ketika hijrah ke Madinah ialah membangun sebuah masjid. Dindingnya dari tanah liat, tiangnya batang kurma, lantainya pasir, dan atapnya pelepah kurma. Apakah karena kondisi ekonomi masih prihatin? Ternyata tidak. Dalam kitab Dalil an-Nubuwwah, al-Baihaqi meriwayatkan dari Ubadah bin Shamit bahwa kaum Anshar mengumpulkan harta dan mendatangi Rasulullah SAW seraya berkata, “Wahai Rasulullah, bangunlah masjid dan hiasilah seindah-indahnya dengan harta yang kami bawa ini. Sampai kapan kita harus shalat di bawah pelepah kurma?” Beliau menjawab, “Aku mau seperti saudaraku Nabi Musa a.s., masjidku cukup seperti arisy (gubuk tempat berteduh) Nabi Musa a.s. Hasan menjelaskan bahwa ukuran arisy Musa a.s adalah bila Rasulullah SAW mengangkt tangannya, atapnya akan tersentuh.

Kisah itu membuktikan bahwa kesederhanaan arsitektur Masjid Nabawi yang asli di Madinah bukanlah karena kurang biaya. Tapi memang disengaja oleh Rasulullah SAW untuk diteladani umat Islam. Beliau bersabda “Aku tidak diutus untuk menghias masjid.” Dalam Hadits lain beliau bersabda “Tidak datang saat kehancuran sampai manusia berlomba bermegah-megahan dengan masjid-masjid.” Masih banyak lagi hadits serupa, misalnya yang terdapat dalam kitab At-Targhib wa at-Tarhib, sahabat Anas r.a. pernah keluar menyertai Rasulullah SAW. lalu tampak oleh beliau bangunan tinggi berkubah. Beliau bertanya “Apa itu?” Para sahabat menjawab bahwa itu adalah kubah si Fulan milik Anshar. Rasulullah SAW bersabda “Semua bangunan megah akan menjadi beban bagi pemiliknya di hari kiamat” Maka sahabat Anshar tadi dengan patuh meruntuhkan kubah itu. Lantas, Rasulullah SAW mendoakannya dua kali, Yarhamuhullah, yarhamuhullah (Semoga Allah merahmati dia).”

Prinsip bangunan mesjid sederhana ini dipegang teguh oleh beliau sampai wafat. Ini diteruskan oleh empat Khulafa’urrasyidin – Abu Bakar r.a., Umar r.a., Utsman r.a., dan Ali r.a. Mereka adalah para khalifah yang paling saleh dan paling paham tentang Islam. di zaman merekalah wilayah Islam meluas dengan pesat meliputi kerajaan Mesir, Persia, dan Romawi. Namun, di tengah melimpahnya harta dari segala penjuru, arsitektur masjid Nabawi tetap sederhana sesuai pedoman Rasulullah SAW, walaupun ukuran masjid mengalami perluasan berkali-kali.

Baru setelah Muawiyah, anak Abu Sufyan menjadi khalifah, negara diubah menjadi kerajaan dan ibu kota pindah dari Madinah ke Damaskus. Dia dan keturunannya hidup bermewah-mewah, membangun istana pribadi berkubah hijau dan juga masjid Umayyah yang megah. Pelanggaran prinsip ini berkelanjutan sepanjang sejarah Islam. Masjid-masjid mulai dibangun dengan arsitektur semakin mewah di seluruh dunia. Bila Sejarah diteliti, akan terungkap bahwa sebagian besar istana dan masjid-masjid megah monumental itu dibangun oleh penguasa yang perilakunya tidak terlalu Islami. Barangkali untuk mengimbangi rasa bersalah kemewahan hidupnya, mereka membangun juga masjid yang megah.

Raja-raja yang saleh biasanya tidak meninggalkan arsitektur masjid mewah. Arsitektur Masjid megah terdapat dari Maroko sampai Spanyol. Dari turki sampai India. dari Iran sampai Asia tenggara. Termasuk masjid Nabawi di Madinah sendiri saat ini dibangun supermewah, dan sangat boros energi. Saking mahalnya, sampai-sampai di luar bulan Ramadhan, pintu dikunci jam 10 malam takut ada pencuri hiasan emas murni di dalamnya. Anehnya, kita ikut terbangga untuk hal yang dikecam oleh Rasulullah SAW. Alasan klasik biasanya demi syiar Islam, jadi bangunan masjid harus melebihi megahnya gereja dan kuil. Tapi adakah hal itu diperintahkan dalam Al Quran, hadis, atau ucapan sahabat? Sayang sekali perintah itu tidak ditemukan, yang ada justru kecaman Allah dalam Al Quran, Kalian dilengahkan oleh berlomba kemegahan dan kuantitas, sampai ke tepi liang kubur.” (Q.S. At-Takaatsur [102]:1-2)

Memang ada hadis, Inallaha jamilun yuhibbu al jamal “Allah itu indah dan Dia cinta keindahan.” Namun, ketika keindahan itu harus dibayar mahal, perbuatan itu bisa masuk kategori israf (berlebihan), yang justru dibenci Allah, “Jangan kamu berlebih-lebihan, sesungguhnya Dia (Allah) tidak mencintai orang yang berlebihan.”(Q.S. Al An’aam [6]:141)

Kita hanya mengagumi tampilan fisik, tetapi lipa akan jiwa, niat, dan aktivitas mesjid. Padahal Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat penampilanmu dan kekayaanmu, melainkan Dia melihat hatimu dan amalmu.” Bila prinsip ini diterapkan pada penilaian masjid, yang dinilai seharusnya bukan hal fisik keindahan luar seperti tingginya kubah dan menara. Mengilatnya lantai granit dan empuknya permadani. Mahalnya lampu kristal. Indahnya ukiran ornamen di mimbar dan kaligrafi di dinding. Melainkan hal yang lebih abstrak berupa ketulusan nit membangun mesjid, keikhlasan pengurus, kemakmuran shalat berjamaah sejak Shalat Subuh, kreativitas aktivitas pemuda, kesucian sumber dana, kejujuran penyaluran dana, dan efektivitas dakwah yang dirasakan oleh masyarakat sekitarnya.

Kebersihan fisik memang dianjurkan oleh Rasulullah SAW dengan melarang meludah dan makan sejenis bawang bila masuk masjid. Namun, kebersihan batin juga disyariatkan, misalnya dilarang berjual beli dan mengumumkan barang hilang di masjid. Niat juga penting, Allah SWT memerintahkan Menghancurkan masjir dlirar yang bagus di  Madinah, hanya karena niat buruk kaum munafik yang membangunnya untuk memecah belah kaum Muslimin. Paradigma arsitektur masjid harus dikoreksi, tampilan fisik tidak penting. Keindahan bukan prioritas pertama. Fungsi pokok masjid harus didahulukan. Tegaknya syariat di lingkungan sekitar mesjid, kekompakan persaudaraan Islam, kepekaan terhadap kesenjangan sosial adalah standar yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para penerusnya. Setelah sasaran itu terlaksana, barangkali tidak mengapa sisa dana dipakai memperindah masjid. Dengan demikian, keindahan tetap ada nilainya, tapi bagaimanapun bobotnya jauh di bawah kemakmuran masjid. Wallahu a’lam

One thought on “Masjid Ideal : Megah Atau Makmur?

  1. Ya,trima kasih,link blog anda ini juga udah tak add di blog puisi dan sajakku…mudah-mudahan kita bisa menjadi teman yang saling berbagi…terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s